kita kehilangan dunia
setiap kali kehilangan satu orang
yang kita cinta.
apabila kita kehilangan
satu orang lagi, kita kehilangan dunia
yang sudah hilang.
— Kehilangan, M. Aan Mansyur
Pak Wid, setahun telah berlalu
sejak panggilan telepon yang meruntuhkan dunia saya itu berdering. Saya masih mengingat persis suara istri Bapak yang terisak ketika mengatakan, “Bapak
meninggal, Im.”. Saya terdiam. Tenggorokan tercekat. Di kepala, sebuah pertanyaan
memukuli saya tanpa ampun: bukankah nasib yang begitu kejam kehilangan tiga orang
terpenting dalam hidup di tahun yang sama? Siapa orang yang sanggup
menanggung nestapa sedahsyat ini?
Beberapa bulan sebelumnya,
Bapak datang melayat ke rumah saya. Kedua orang tua saya meninggal dalam
kecelakaan pada satu malam di bulan Ramadan. Sejak hari itu itu, hidup saya
terbelah menjadi dua: sebelum kehilangan dan sesudahnya. Kehilangan keduanya sekaligus
membuat saya tidak lagi memiliki tempat berteduh dan pulang. Saya tidak lagi menemukan alasan melanjutkan hidup sebab kekuatan terbesar saya menghadapi segala badai
adalah keinginan membahagiakan mereka.
Lalu di tengah duka itu, Bapak berkata: “Kamu masih punya Bapak. Saya Bapak kamu juga, Im.”. Bapak pasti tidak menyadari betapa bermaknanya pelipur lara ini di tengah dunia yang luluh lantah. Bagi saya, ungkapan itu adalah pegangan yang ingin saya genggam erat di tengah takdir yang koyak dan lebur ini.
Beberapa bulan
kemudian, saya mendengar kabar bahwa kondisi Bapak kritis. Sepanjang
perjalanan kereta menuju Yogyakarta, kenangan tentang Pak Wid berkelebat:
nasihat, teguran, percakapan sederhana, dan kebaikan-kebaikan yang secara
konsisten Bapak curahkan. Saya jelas belum sanggup kehilangan lagi. Tentu tidak
secepat ini ketika luka sebelumnya masih menganga begitu lebar,
menenggelamkan seluruh batin dan raga saya.
Ketika tiba di rumah sakit,
saya tidak bisa menemui Bapak karena ketentuan ruang NICU tidak mengizinkan
saya masuk. Saya berdiri di luar, dipisahkan oleh jendela kaca, dengan begitu
banyak hal yang ingin saya sampaikan. Jika hari itu saya bisa duduk sebentar di
samping Bapak, inilah yang ingin saya katakan.
Terima kasih yang begitu banyak, Pak Wid. Terima kasih karena dahulu Bapak bertaruh dengan mengajak saya menjadi penggawa Bagian Sistem Informasi yang Bapak pimpin. Saya tidak memiliki latar belakang teknologi informasi tetapi Bapak memberi saya kesempatan untuk belajar dan membuktikan diri. Bapak percaya pada kemungkinan dalam diri saya, bahkan ketika saya sendiri belum bisa melihatnya. Sekarang saya sudah menjadi IT auditor yang lumayan, Pak. Itu karena Bapak mendorong saya untuk mendobrak ketakutan dan ketidakmungkinan.
Jika hari ini saya memiliki
keberanian untuk mengambil kesempatan yang membuat saya gentar, kemauan untuk
terus belajar, dan keinginan untuk membantu orang lain bertumbuh, sebagian dari
itu berakar pada didikan Bapak. Pak Wid mengajari saya bukan hanya untuk
menjadi seseorang yang mampu, tetapi juga seseorang yang bisa diandalkan dan
tetap mengutamakan kebaikan hati, bahkan ketika orang lain tidak selalu
memperlakukan kita dengan baik. Pada akhirnya, Bapak telah meninggalkan selaksa keping keteladanan sebagai pembelajaran bagi saya.
**
Dahulu, saya pernah mengatakan
betapa beruntungnya kehidupan profesional saya diasuh oleh Pak Wid. Kini, saya merasa
kalimat itu terlalu sederhana untuk menggambarkan arti kehadiran Bapak dalam
hidup saya. Terdapat ungkapan Bahasa Jawa yang merepresentasikan kejadian pertemuan di lantai 10 Gedung Juanda II hari itu, ”lir handaru tumurun ing jagad”.
Saya memaknainya sebagai keberuntungan besar yang diturunkan ke bumi,
sebuah anugerah terlalu magis yang saya tidak yakin apakah saya pantas mendapatkannya.
Bagi saya, dibimbing Pak Wid adalah salah
satu keberuntungan terbesar yang pernah Allah hadiahkan dalam hidup saya. Bapak memberi
saya kesempatan untuk bertumbuh, menuntun saya melewati kesalahan dan
kegagalan, dan menjadi perantara penyembuhan ketika hidup mencabik-cabik saya.
Setahun telah berlalu, Pak
Wid. Dunia terus bergerak, meskipun ada bagian dari diri saya yang masih
tertinggal pada hari tatkala kabar itu datang. Setahun ini, saya masih berjalan
di bawah kabut gelap kehilangan. Ada hari-hari ketika langkah terasa teramat berat, dan
ada cerita-cerita yang tidak tahu harus saya ceritakan kepada siapa. Namun, saya akan tetap melangkah meski terseok-seok, Pak.
Terima kasih telah menjadi
mentor terbaik yang pernah hadir dalam hidup saya. Forever, I am your mentee. Your silly mentee. Apakah Bapak mau mendengar kabar saya hari ini?



